Sayang yang Abadi, Cinta yang Bersemi

Andika, nama yang dipilih Ayah untuk adik saya yang terakhir. Sekarang usianya menginjak 6 tahun, meski masih meminum susu botol. Saya sering beradu pendapat pada Ibu, tentang susu botol yang akan membuat giginya tidak tumbuh dengan bagus. Buktinya, gigi Dika masih berlubang dan berwarna hitam sampai sekarang.. Dan Ibu selalu berulah mengocok susu botol untuk diberikan kepadanya dan bercakap ‘masa anak minta dan mama tega gak ngasih.. mending ga makan daripada melihat anak menangis karena susu’. Apapun cara yang dia lakukan, itu adalah bentuk kasih sayang Ibu kepada Anaknya.

Sama seperti saya sebagai Kakak yang menyayangi Adiknya, selalu besi keras menanggapi cara Ibu yang terus memberikan susu itu ke Dika, yang akhirnya membuat gigi nya hitam dan berlubang. Sedikit lucu karena bisa meledek Dika dengan sebutan gigi gawang.

Bentuk kasih sayang Kakak kepada Adiknya dikeluarga kecil ini, terbentuk semakin dalam dan hangat setiap harinya. Ketika saya melihat bagaimana Adik saya begitu pedulinya kepada saya. Adik saya biasanya menunggu didepan pintu, duduk dengan mengenakan peci dan memeluk Iqra, bergegas untuk pergi ke Mushola dan mengaji. Ketika saya membuka gerbang, keluarlah teriakan kecil dengan seruan “Bapa pulaang..!” dan jawaban meledek saya “Ang aris yang pulang…”, lalu dia tersenyum dan tangan kecilnya menggapai tangan kanan saya, mengayunkannya ke bibirnya serentak berkata “Saliiim..”.

Bagaimana cara saya bersyukur kepada Allah S.W.T, memiliki keluarga yang indah. Dengan Ibu yang sudah siap dengan masakannya, Adik yang merindukan kepulangan Kakaknya.

Sesekali ketika melihat Adik saya, saya jadi iba ketika bertemu Anak kecil di pinggir jalan. Bergelut dengan kumuh, mengais sampah, menodongkan tangan untuk meminta. Berharap ada yang peduli dan membiarkannya menelan nasi. Bayang-bayang terhadap Adik saya selalu menggerakan hati saya untuk lebih peduli terhadap sesama, dengan bayangan “Bagaimana jika adik saya seperti ini?” maka akan hancur hati saya membayangkan itu semua.

Salam dari saya sebagai Kakak-mu, semoga kau lekas fasih membaca dan mengakses blog ini hehehe…

“Ingatlah selalu orang disekitarmu, ingat bagaimana kita bisa tersenyum bahagia disaat orang lain merasakan kesedihan. Ingat bagaimana kita bisa tertidur pulas dengan perut yang kenyang, sedangkan orang lain ada yang gelisah tidurnya karena perutnya sakit kelaparan… Bangun semangatmu, bangun mimpimu, bangun kebahagiaanmu, dan bangun kesetiaanmu kepada Allah S.W.T. Kejar yang menjadi cita-citamu, kejar yang menjadi impianmu, tapi jangan lupakan aqidah mu. Jalani hari-harimu dengan penuh kasih sayang, redam amarahmu, dan balas dengan senyuman. Lupakan kesedihanmu, dan ingat La Tahzan, Innallaha Ma’ana.. Jangan bersedih, Allah bersama kita.”

 

Aris Agung Wibono,

Kamis, 17 November 2016.

Share This:

Tinggalkan Komentar

2 Comments


  1. // Reply

    bersikeras mungkin bukan besi keras?
    udah kerenn pake bgt kata2nya juga gampang dicerna. dika emng lucuk. aku suka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *