Tentang cita-cita, dan perubahannya.

Cita-cita.

Kecil dulu, ketika saya masih duduk di bangku Taman Anak-Anak. Apa yang akan saya jawab kepada Guru saya mengenai cita-cita, adalah ‘Menjadi dokter buuu… Jadi polisi buu.. Jadi Guru bu’. Ini adalah parameter untuk ukuran cita-cita anak-anak pada saat masih kecil.

Ketika duduk dikelas 1 SD. Cita-cita saya tidak muluk-muluk, menjadi seorang yang kaya raya, saat itu saya belum tahu benar definisi cita-cita, menurut saya untuk apa menjadi Dokter, kalau kita bisa menjadi apapun saat kita kaya raya. Dulu saya bersekolah di SD Negeri 1 Lakbok Kota Ciamis, sekolah di Desa saat itu belum semaju jika kita bersekolah di Kota Besar. Jadi, pemikiran saya benar-benar tidak terbuka untuk sebuah cita-cita, hal yang ingin kita capai dalam kehidupan.

Kelas 2 SD, Orang Tua saya memindahkan saya ke Jakarta, begitu juga dengan Sekolah, saya masuk di SDN 03 Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat itu, sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit, dengan frekuensi pendaftar yang tinggi setiap tahun ajarannya.

Kelas 3 SD, saya mendapatkan teman baru. Namanya Surya, pindahan dari SD di daerah Mampang Prapatan. Saat itu Console Game Playstation 2 sedang booming, kebetulan Surya memilikinya, jadi hampir setiap hari saya pulang dari Sekolah, saya pergi kerumah Surya. (Out of topic, game keren saat itu The Warriors hehe..).

Ayah Surya adalah seorang Teknisi Komputer, jadi Rumah doi setiap hari dipenuhi dengan perangkat dan peripheral komputer. Setiap saya tanya, ‘Sur, nanti lo mau jadi apa kalo udah gede?’ jawaban dia ‘Programmer’. Saat kecil, saya tidak tahu apa sih Programmer itu, saya kira Surya gila karena ingin memiliki profesi menjadi pemain game, karena yang saya tahu sewaktu kecil hanya game.

Surya terhitung anak yang cerdas, apalagi masalah teknologi. Jaman itu, ketika saya hanya tahu 1 nama ‘Komputer’, Surya sudah tahu tentang teknologi processor, wah.. Saya saja baru sekali mendengar nama itu, ya itu.. ketika dia bercerita menjadi seorang Programmer.

Lambat laun, seperti orang yang bermain dengan tukang minyak wangi, bau kita pun seperti minyak wangi. Saya menjadi suka dengan Komputer, menjadi ingin tahu banyak tentang Komputer. Dirumah saya tidak memiliki sebuah perangkat Komputer sama sekali, namun saya selalu iri melihat Surya bisa mengetik dengan cepat pada saat pelajaran KKPI. Jadi saya membuat layout keyboard di selembar kertas hvs, dan belajar mengetik di atas ubin putih berlapiskan kertas hvs itu.

Lulus SD, saya diterima di SMP Negeri 239 Jakarta. Namun dengan cita-cita yang berbeda, ‘menjadi orang IT’. Masih belum memahami definisi IT itu sendiri, kerjaan masih ke Warnet dan bermain game online.

Game Online merusak segalanya, merusak apa yang saya sudah harapkan, lulus dan masuk di SMA Negeri, mengambil jurusan IPA dan kuliah di Universitas Negeri mengambil bidang studi Teknik Informatika. Saya masuk SMK Swasta, bernama SMK Wisata Indonesia. Saya masuk di Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan, dengan bekal beberapa ilmu yang saya dapatkan di Warnet dulu. Tentang domain gratis, tentang hosting gratis, dan membuat forum gratis di forumotion. Masih ingat dengan kelas 2 SMP dulu, pernah membuat aplikasi twitter client menggunakan script dabr.co.uk dan menghubungkannya ke twitter API. Sebagian besar waktunya, habis untuk bermain game.

Dengan modal sejengkal, sudah merasa sok paling pintar. Di SMK, saya mengenal beberapa teknologi, beberapa hal yang belum saya kenal dulu, dan merasa ‘Ini gue banget. dunia gue banget, dan apa yang gue cita-citain banget’. Belajar dan belajar, melupakan hal tentang pacaran. Sering di cengin sok kepinteran melunturkan kesombongan. Ikut ajang Lomba LKS SMK dan merasa paling benar ternyata hanya sampai Juara Harapan. Menjadikan saya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Tahun terakhir saya di SMK, tidak ada karya yang saya buat. Hanya web sekolah yang saya buat dari CMS gratis, namun kali ini tidak boleh sombong. Ternyata langin menjulak tinggi dan masih banyak insan diatas sana. Saya dipilih lagi menjadi wakil di Lomba LKS SMK, belajar dengan sungguh-sungguh.. akhirnya menjadi Juara 1 untuk Kotamadya Jakarta Selatan.

Mepet UN, sebentar lagi lomba DKI.

Namun dedikasi saya masih kepada lomba, melupakan belajar UN. Tidak ada fikiran masuk di Universitas Negeri. Dan 3 hari setelah Ujian Nasional, saya menjadi juara 3 di DKI Jakarta, dengan wakil satu-satunya SMK Swasta. Tapi, UN saya buruk. Nilai saya banyak yang kurang, namun sekolah tetap memilih saya menjadi siswa terbaik 1 angkatan.

Lulus, saya bekerja menjadi seorang guru produktif TKJ di SMK Islam daerah Jakarta Timur. Tidak banyak pengalaman yang saya dapatkan dari pekerjaan ini, hanya rasa malu karena jaman sekolah sering merendahkan guru, sekarang kita merasakan hal yang sama. Itu saat saya sadar, pentingnya menghargai dan menyayangi seorang guru.

Lepas itu, saya diterima bekerja di sebuah Perusahaan Swasta di Jakarta Timur, menjadi seorang Server Administrator. Ruang lingkup baru, belajar hal baru, ilmu baru, interaksi baru, dan pribadi baru. Terlintas fikiran di kepala tentang cita-cita jaman SD, membuat saya duduk terdiam dan tersenyum membayangkan betapa lucunya saya saat itu.

Sekarang, saya bekerja menjadi orang IT, setiap hari remote server dan melakukan hal yang dulu saya pernah bayangkan tanpa definisi yang jelas. Dreams Come True. Perusahaan ini bekerja membuat market place untuk para Petani yang ingin menjual dagangannya secara online, membantu mengeluarkan mereka dari zona tengkulak nakal dan masih banyak hal yang saya kerjakan disini. Saya juga bekerja untuk Perusahaan lain, kebetulan sekarang sedang menjadi vendor untuk Infrastructure Website milik salah satu instansi negara, Wonderful Indonesia. Saya juga menjadi salah menjadi Sysadmin-nya. Dan saya berjanji, saya akan terus belajar, dan berbagi apa yang saya pahami.

Masa depan seringkali adalah perwujudan dari apa yang anda fikirkan.

Cita-cita hanya akan menjadi kenangan belaka jika kita tidak berusaha dengan benar, tidak melakukan perubahan pada diri kita, dan terus merasa kalau kita lah yang paling benar. Padahal, kita hanya sebutir pasir di gurun.

Ilmu tidak memiliki batasan.

Jangan pernah merasa cukup untuk apa yang kita kuasai dan kita dapatkan, namun syukurilah selalu apa yang Tuhan kita berikan.

Ini adalah bagaimana saya memulai hidup saya, saya selalu berucap ‘Gue belum kaya kok, tapi gue gak miskin usaha’. Semoga Tuhan tau apa yang saya impikan, dan mengabulkannya.

Terima kasih bagi yang membacanya.

Jum’at, 30 September 2016. – Aris A. Wibono

Share This:

Tinggalkan Komentar

2 Comments


  1. // Reply

    Mantab lah pokoknya bang aris wkwkkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *